KONTRUKSI MEDIA MASSA
Disusun
untuk Memenuhi salah satu tugas Pengantar Public Relations
Oleh
:
Revina Mandala Putri (41153030120006)
ILMU
KOMUNIKASI
FAKULTAS
ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS
LANGLANGBUANA BANDUNG
2014
Sejak terpilihnya Jokowi menjadi
Gubernur DKI Jakarta, hampir semua polah tingkah Jokowi menjadi sorotan media,
baik televisi maupun cetak. Topik mengenai Jokowi pun mewarnai berbagai wajah
media.
Seorang
pengamat mengomentari penampilan seorang tokoh masyarakat yang mempunyai
kedudukan sebagai Gubernur, yaitu Joko Widodo. Mengapa ia yang sebenarnya
biasa-biasa saja, tetapi telah menjadi demikian popular,Bahkan dalam hubungan
mencari capres untuk menghadapi Pilpres 2014, Jokowi tampil sebagai tokoh yang
paling populer di antara semua nama bakal capres yang telah muncul. Pengamat
tersebut menyimpulkan Gubernur DKI Joko Widodo menjadi populer karena media
massa hampir setiap hari pasti memberitakan kegiatan Gubernur DKI Joko Widodo
atau Wakil Gubernur Ahok, sehingga mereka berdua selalu muncul dalam media
massa yang terbit di Jakarta.
Pemilu legislatif dan pemilihan
presiden sudah di depan mata. Banyak parpol dan capres berlomba mengadu
strategi demi menarik hati rakyat agar menang. Salah satunya yang dilakukan
kandidat presiden yang diusung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP),
Joko Widodo alias Jokowi. Tim mereka dikabarkan membentuk semacam jaringan
udara yang bergerak melalui jaringan internet. Mereka masuk melalui media
sosial seperti Facebook dan Twitter serta banyak media massa online. Bahkan,
kabarnya mereka menarik banyak orang untuk dilibatkan dalam serangan udara
tersebut. Sebagian besar dibayar sekitar Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta per
kepala hanya untuk membuat ramai dunia maya dengan isu-isu soal Jokowi.
Kebanyakan itu penjaga toko, penjaga gerai telepon seluler, ada juga yang
tukang becak," ujar salah seorang sumber saat berbincang dengan
Tribunnews, Minggu (30/3/3014). Cara kerja mereka pun cukup unik dan mudah. Mereka
hanya memantau pemberitaan lalu memberikan komentar baik di media massa online
ataupun di jaringan sosial media seperti Facebook dan Twitter. "Jadi,
ada pemimpinnya dari orang terdidik biasanya dia komentar dulu halus dulu
komentarnya. Lalu setelah itu buntutnya banyak. Makanya kalau dilihat komentar
mereka kasar-kasar kan," katanya.Modus lainnya yang biasa dipakai kata
sumber tersebut adalah dengan membuat akun di Facebook dan Twitter. Yang
fenomenal ada di Twitter dua akun bernama RamalanBintang dan InfoCewek. Kedua
akun tersebut sudah memiliki jutaan follower atau pengikut. Dalam akun ini
sebenarnya tidak ada yang istimewa, hanya saja beberapa momen nama Jokowi
kadang disisipkan. "Kaya akun RamalanBintang, infonya soal zodiak tapi
kadang diselipin nama Jokowi. Ada juga di Kompasiana akunnya tiga biasa
komentar kalau terkait Jokowi,"ujar sumber tersebut. Politisi PDI
Perjuangan Eva Kusuma Sundari yang dikonfirmasi mengenai hal tersebut
membenarkan adanya tim udara tersebut. Hanya saja ia mengaku tidak tahu
mendetail soal adanya massa bayaran yang dikerahkan untuk membuat ramai dunia
maya. "Iya (memang ada tim udara), tapi aku tidak tahu detailnya. Banyak
yang daftar," ujarnya. Eva mengatakan pihak Seknas Jokowi juga sudah
menyiapkan tim kampanye udara di media sosial dan media massa online. "Ada
juga Seknas nyiapkan tim udara, spin doctornya Kartika Djoemadi,"ujarnya.Adanya
upaya melakukan serangan udara tersebut kata Eva membuat banyak orang
ramai-ramai berbondong ingin mendaftar dan menjadi bagian dari tim. Bahkan,
sampai ke luar negeri."Sudah ada DC, Berlin dan China serta Australia,
menyusul Jeddah,"ujarnya. (tribunnews)
Menurut Panuju (2002),
persoalan-persoalan yang dilansir media massa membentuk peta pemikiran
(politik) dalam masyarakat. Para ahli politik yakin bahwa sumber informasi yang
paling utama berpengaruh terhadap pola pikir masyarakat adalah media massa
terutama televisi. Artinya bahwa setiap individu yang berhadapan langsung
dengan dunia politik meyakini bahwa tanggung jawab mereka terhadap kinerja
masing-masing akan mudah memberi gambaran di masyarakat melalui media massa,
dan kemudian masyarakat akan menganggap apa yang dianggap media massa sebagi
realitas merupakan sebuah kebenaran.
Dalam tulisan ini, penulis hanya
menyoroti salah satu aspek yang paling menonjol, yakni sistem media massa dalam
mengkonstruksi realitas citra Jokowi. Serta menjelaskan bagaimana sistem media
massa kemudian memproduksi elemen-elemen yang membentuk dirinya sendiri,
Luhmann menyebutnya sebagai sistem autopoietic. Sistem autopoietic memiliki
kecendrungan bahwa pada dirinya sendiri memiliki ketetapan nilai yang relevan
bagi dirinya (self-reference). Serta tertutup dan tidak memiliki kaitan
secara langsung dengan lingkungannya. Sistem autopoietic mampu menghasilkan
elemen-elemen dasar yang membentuk dirinya sendiri (self creation).
Sistem tersebut juga mampu mengorganisasikan diri (self organizing),
mengorganisasikan batasan-batasan dan struktur internalnya sendiri.
SUMBER :
DETIKNEWS, 17 Januari 2014
TRIBUNNEWS
Panuju,
Redi. (2002). Relasi Kuasa Negara, Media Massa dan Publik, Pertarungan
Memenangkan Opini Publik dan Peran Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Luhmann,
Niklas. (2000). The Reality of Mass Media (Trans. Kathleen Cross). Cambridge:
Polity Press.
http://zianpradhana.wordpress.com/2014/01/27/kepemimpinan-joko-widodo-media-darling-dan-optimisme-semu-masyarakat-sebagai-konstruksi-realitas-media-massa/
