Minggu, 06 April 2014


KONTRUKSI MEDIA MASSA

Disusun untuk Memenuhi salah satu tugas Pengantar Public Relations














Oleh :

Revina Mandala Putri (41153030120006)




ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS LANGLANGBUANA BANDUNG
2014




Sejak terpilihnya Jokowi menjadi Gubernur DKI Jakarta, hampir semua polah tingkah Jokowi menjadi sorotan media, baik televisi maupun cetak. Topik mengenai Jokowi pun mewarnai berbagai wajah media.
Seorang pengamat mengomentari penampilan seorang tokoh masyarakat yang mempunyai kedudukan sebagai Gubernur, yaitu Joko Widodo. Mengapa ia yang sebenarnya biasa-biasa saja, tetapi telah menjadi demikian popular,Bahkan dalam hubungan mencari capres untuk menghadapi Pilpres 2014, Jokowi tampil sebagai tokoh yang paling populer di antara semua nama bakal capres yang telah muncul. Pengamat tersebut menyimpulkan Gubernur DKI Joko Widodo menjadi populer karena media massa hampir setiap hari pasti memberitakan kegiatan Gubernur DKI Joko Widodo atau Wakil Gubernur Ahok, sehingga mereka berdua selalu muncul dalam media massa yang terbit di Jakarta.

Pemilu legislatif dan pemilihan presiden sudah di depan mata. Banyak parpol dan capres berlomba mengadu strategi demi menarik hati rakyat agar menang. Salah satunya yang dilakukan kandidat presiden yang diusung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Joko Widodo alias Jokowi. Tim mereka dikabarkan membentuk semacam jaringan udara yang bergerak melalui jaringan internet. Mereka masuk melalui media sosial seperti Facebook dan Twitter serta banyak media massa online. Bahkan, kabarnya mereka menarik banyak orang untuk dilibatkan dalam serangan udara tersebut. Sebagian besar dibayar sekitar Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta per kepala hanya untuk membuat ramai dunia maya dengan isu-isu soal Jokowi. Kebanyakan itu penjaga toko, penjaga gerai telepon seluler, ada juga yang tukang becak," ujar salah seorang sumber saat berbincang dengan Tribunnews, Minggu (30/3/3014). Cara kerja mereka pun cukup unik dan mudah. Mereka hanya memantau pemberitaan lalu memberikan komentar baik di media massa online ataupun di jaringan sosial media seperti Facebook dan Twitter. "Jadi, ada pemimpinnya dari orang terdidik biasanya dia komentar dulu halus dulu komentarnya. Lalu setelah itu buntutnya banyak. Makanya kalau dilihat komentar mereka kasar-kasar kan," katanya.Modus lainnya yang biasa dipakai kata sumber tersebut adalah dengan membuat akun di Facebook dan Twitter. Yang fenomenal ada di Twitter dua akun bernama RamalanBintang dan InfoCewek. Kedua akun tersebut sudah memiliki jutaan follower atau pengikut. Dalam akun ini sebenarnya tidak ada yang istimewa, hanya saja beberapa momen nama Jokowi kadang disisipkan. "Kaya akun RamalanBintang, infonya soal zodiak tapi kadang diselipin nama Jokowi. Ada juga di Kompasiana akunnya tiga biasa komentar kalau terkait Jokowi,"ujar sumber tersebut. Politisi PDI Perjuangan Eva Kusuma Sundari yang dikonfirmasi mengenai hal tersebut membenarkan adanya tim udara tersebut. Hanya saja ia mengaku tidak tahu mendetail soal adanya massa bayaran yang dikerahkan untuk membuat ramai dunia maya. "Iya (memang ada tim udara), tapi aku tidak tahu detailnya. Banyak yang daftar," ujarnya. Eva mengatakan pihak Seknas Jokowi juga sudah menyiapkan tim kampanye udara di media sosial dan media massa online. "Ada juga Seknas nyiapkan tim udara, spin doctornya Kartika Djoemadi,"ujarnya.Adanya upaya melakukan serangan udara tersebut kata Eva membuat banyak orang ramai-ramai berbondong ingin mendaftar dan menjadi bagian dari tim. Bahkan, sampai ke luar negeri."Sudah ada DC, Berlin dan China serta Australia, menyusul Jeddah,"ujarnya. (tribunnews)
Menurut Panuju (2002), persoalan-persoalan yang dilansir media massa membentuk peta pemikiran (politik) dalam masyarakat. Para ahli politik yakin bahwa sumber informasi yang paling utama berpengaruh terhadap pola pikir masyarakat adalah media massa terutama televisi. Artinya bahwa setiap individu yang berhadapan langsung dengan dunia politik meyakini bahwa tanggung jawab mereka terhadap kinerja masing-masing akan mudah memberi gambaran di masyarakat melalui media massa, dan kemudian masyarakat akan menganggap apa yang dianggap media massa sebagi realitas merupakan sebuah kebenaran.
Dalam tulisan ini, penulis hanya menyoroti salah satu aspek yang paling menonjol, yakni sistem media massa dalam mengkonstruksi realitas citra Jokowi. Serta menjelaskan bagaimana sistem media massa kemudian memproduksi elemen-elemen yang membentuk dirinya sendiri, Luhmann menyebutnya sebagai sistem autopoietic. Sistem autopoietic memiliki kecendrungan bahwa pada dirinya sendiri memiliki ketetapan nilai yang relevan bagi dirinya (self-reference). Serta tertutup dan tidak memiliki kaitan secara langsung dengan lingkungannya. Sistem autopoietic mampu menghasilkan elemen-elemen dasar yang membentuk dirinya sendiri (self creation). Sistem tersebut juga mampu mengorganisasikan diri (self organizing), mengorganisasikan batasan-batasan dan struktur internalnya sendiri.



SUMBER :

DETIKNEWS,  17 Januari 2014

TRIBUNNEWS

Panuju, Redi. (2002). Relasi Kuasa Negara, Media Massa dan Publik, Pertarungan Memenangkan Opini Publik dan Peran Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Luhmann, Niklas. (2000). The Reality of Mass Media (Trans. Kathleen Cross). Cambridge: Polity Press.

http://zianpradhana.wordpress.com/2014/01/27/kepemimpinan-joko-widodo-media-darling-dan-optimisme-semu-masyarakat-sebagai-konstruksi-realitas-media-massa/